FGD DESA PATIN : PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN TRENGGALEK

Oleh : Alqoma Subkhi (Perencana Pertama)

Suasana FGD Hasil Pemetaan Lapangan Oleh Konsultan Pendamping Dalam Pengembangan Produk Unggulan Di Kab. Trenggalek

TRENGGALEK – Kamis (10/06/2021) Pemerintah Kabupaten Trenggalek Bersama Kolaborasi Masyarakat Dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan (KOMPAK) mengundang OPD Terkait untuk Diskusi Kelompok Terarah terkait tindak lanjut Pengembangan Produk Unggulan Di Kabupaten Trenggalek melalui program Keperantaraan Pasar. FGD hari ini dimulai dengan pembukaan dari Bapak Camat, dilanjutkan paparan pengembangan ekonomi dari Bappedalitbang, Setelah itu paparan dari Kepela Dinas Perikanan terkait potensi perikanan, dan yang terakhir paparan dari Bapak imam terkait lokus keperantaraan pasar.

Suasana Sambutan oleh Camat Watulimo, Dilanjutkan Pemaparan oleh Kabid Perencanaan Perekonomian Bappedalitbang, Pemaparan Kepala Dinas Perikanan, dan Pemaparan Hasil Pemetaan Komoditas Unggulan Watulimo oleh Pendamping Minapolitan.

Kegiatan Kompak di Indonesia akan berakhir di bulan Desember 2021, harapan kami adalah dukungan kompak dapat bermanfaat dan dilanjutkan pemerintah, khususnya keperantaraan pasar. Camat Watulimo menjelaskan bahwa “Pemilihan lokus di Desa Karangandu ada dua misi yaitu : Tempat budidaya perikanan utamanya ikan patin dan Desa Wisata, karena tahun ini karangandu menjadi bagian dari 100 desa wisata tahap 1 (35 desa)”.

Ir. Emy Mardiyati, MAP selaku kabid perencanaan perekonomian Bappedalitbang, memaparkan Dukungan Pemkab Trenggalek Terkait Program Keperantaraan Pasar “Pemerintah daerah sangat berkomitmen untuk mendukung keperantaraan pasar, dengan program ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan ini sudah terbukti di Kecamatan Pule dengan Biofarmakanya,”.

Dijelaskan juga pada forum tersebut, Beberapa dukungan untuk Keperantaraan Pasar berupa (1) Penyediaan dukungan teknis seperti pelatihan, bimtek dll; (2) Pengalokasian anggaran untuk hibah, baik melalui OPD maupun BKK Desa; (3) Kemudahan perizinan; dan (4) aspek infrastruktur pendukung, secara spesifik dukungan untuk keperantaraan pasar di Kabupaten Trenggalek adalah sebagai berikut :

–             Pengolahan Empon2 (Pengadaan Solar Dome Dryer) : Desa Pule Kec. Pule (BUMDESMA Sari Bumi

–             Pengolahan Kelapa : Desa Wonocoyo Kec. Panggul

–             Pengolahan Sabut Kelapa : Desa Banjar Kec. Panggul

–             Pengolahan Empon2 (Pengadaan Solar Dome Dryer) : Desa Pakel Kec. Pule

–             Pengolahan Sabut Kelapa : Desa Panggul Kec. Panggul

Pada saat yang sama, dipaparkan juga potensi perikanan Kab. Trenggalek oleh Kepala Dinas Perikanan. Ir Cusi Kurniawati. M.Si menyatakan bahwa “Kecamatan Watulimo punya banyak potensi. Diantaranya telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan, serta didukung dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara dan Sentra Pemindangan Bengkorok, termasuk juga 3 unit Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Disisi lain terdapat 25.410,5 Ton Produksi Perikanan Tangkap dengan jumlah nelayan sebanyak 7.021 Nelayan dan didukung 995 Armada serta 934 unit Alat Tangkap. Komoditas unggulannya adalah Ikan tongkol, layang, lemuru, tuna, cakalang”.

Ibu Cusi juga menjelaskan bahwa “Peluang budidaya patin adalah permintaan pasokan patin itu 100 Ton / bulan dan jika Kab. Trenggalek sendiri bisa memenuhi seperempat perbulan itu sudah bagus,  namun ini ada informasi terbaru bahwa permintaannya 300 Ton / bulan”.

Bapak Imam Syafii selaku Pendamping Minapolitan juga memaparkan hasil pemetaan produk unggulan yang ada, pada pemaparannya disampaikan bahwa “Beberapa alasan pemilihan ikan patin dan Desa Karanggandu adalah karena (1) Pangsa pasar ikan patin yang semakin luas, saat ini targetnya 300 ton per bulan; (2) Stok patin langka; (3) Ikan Patin mudah dibudidayakan dan tahan di segala kondisi. Disisi lain Pemilihan Desa karanggandu dikarenakan (1) Desa ini menjadi salah satu target program 100 desa wisata,dan dengan program ini maka branding desa sudah tercipta yaitu Desa Patin; (2) Sumber air melimpah sepanjang tahun, baik dari aliran sungai ataupun air tanah; (3) Lahan datar luas namun masih belum dimanfaatkan untuk usaha yang bernilai ekonomis tinggi, (4) Sumber daya mendukung, dulu sudah banyak masyarakat yang budidaya ikan terutama lele, (5) Akses yang mudah (jarak antara budidaya dengan pabrik pengolahan Fillet Patin sangat dekat, sehingga pengusaha memilih dari karangandu daripada di luar watulimo)”.

Sesi Foto Bersama setelah Diskusi Fokus Terarah selesai diselenggarakan

Selain itu juga, telah dipaparkan terkait analisis usaha budidaya ikan patin, dengan asumsi target panen sebanyak 4 ton maka kolam yang dibutuhkan sebesar 20 M x 15 M dan mengunakan media budidaya kolam terpal (HDPE). Dengan ketersediaan lahan sebesar 1  Ha, maka akan ada 30 petak kolam yang akan direncanakan. Dari analisis sederhana maka kebutuhan anggaran awal sebesar 22.636.000 yang meliputi pengerukan, terpal, biaya pasang, instalasi listrik dan biaya lain. Terkait biaya operasional 1 kolamnya membutuhkan 54.750.000 untuk pakan, benih dan operasional lainnya,dengan asumsi pendapatan 57.375.000 (harga patin 13.500) sehingga keuntungan bersih 1 kolam ikan patin adalah 2.625.000 (pakan barik). Namun jika menggunakan pakan tambahan dan campuran maka keuntungan bisa mencapai 17.125.000/Kolam. Pada aspek perbandingan usaha di lahan yang sama dengan menggunakan padi (kondisi eksisting ditanami padi), padi mampu memberikan keuntungan 50.000.000 setahun, sedangkan budidaya ikan patin mampu memberi keuntungan 157.500.000 (pakan pabrik), dan 1.027.500.000 (Pakan tambahan).

Untuk mengakhiri kegiatan ini, Tim yang ada melakukan peninjauan lapangan calon lokasi budidaya patin untuk program Desa Patin, sekaligus juga ke lokasi CV Wahana selaku calon offtaker keperantaraan pasar ikan patin.

Pada saat peninjauan lapangan, Calon lokasi Budidaya Ikan Patin sangat strategis dan selain konsep budidaya, kedepannya juga akan dikembangkan wisata edukasi, kondisi lokasi saat ini masih ditanami tanaman padi.

Peninjauan lapangan ke perusahaan Fillet Patin didapatkan informasi bahwa fokus pasar Filet Ikan Patin ada wilayah Jabodetabek, untuk wilayah Surabaya terlalu banyak pesaing. Terdapat rencana ekspor ke dubai, namun pemenuhan kebutuhan lokal masih kalangkabut, Pemasaran produk sudah masuk ke Lotte secara nasional, termasuk juga hotel dan restoran secara umum, harga dijual produk masih dibawah 50 ribu, ada kelas A (39 ribu), B (35-36 ribu). Produk sampingan dari proses ini adalah daging perut dan kepala ikan yang sudah dipasrakan ke pasar indramayu, kepala ikan bisa jadi masakan. Terkait jumlah karyawannya, untuk perusahaan di Kab. Trenggalek sudah ada 70 orang, pabrik lainnya sudah 50 orang, di Tulung Agung 100an orang, Beberapa dokumentasi dalam kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

Suasana Peninjauan Calon Lokasi Desa Patin di Desa Karanggandu
Suasana Diskusi Konsep Pengembangan Desa Karanggandu Bersama Kepala Desa Karanggandu
Suasana Peninjauan Lokasi Perusahaan Fillet Ikan Patin sebagai calon Offtaker Ikan Patin pada Program Keperantaraan Pasar di Kecamatan Watulimo
Suasana Peninjauan Sample Produk Fillet Ikan Patin
Sesi Foto Bersama setelah Peninjauan Lapangan Ke Calon Lokasi Desa Patin dan Perusahaan Fillet Ikan Patin

Jika ini baik, benar, bermanfaat, sebarkanlah,

Apabila ada saran dan perbaikan terkait tulisan ini, maka dapat menghubungi penulis,

(Ed: Stafbid Perencanaan Perekonomian)

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *