TP3S Terintegrasi Trenggalek Pamerkan Konsep Emo-Demo Ke Kabupaten Wonogiri dalam Menekan Angka Stunting

Tim Percepatan Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi (TP3S) Kabupaten Trenggalek mendapatkan kunjungan kerja dari Kabupaten Wonogiri, Kamis (11/11). Tim dari Kabupaten Wonogiri melakukan kunjungan terkait dengan penanganan balita stunting. Rombongan kunjungan tersebut disambut di Kantor Bappedalitbang Kabupaten Trenggalek. Plt. Kepala Bappedalitbang Kab. Trenggalek,dr. Ratna Sulistyowati, M.Kes., dalam mengapresiasi kedatangan rombongan yang terdiri dari beberapa sektor. Sebab menurut beliau permasalahan stunting ini harus diketahui dan ditanggulangi tidak hanya oleh sektor Kesehatan saja, tetapi juga sektor sosial, sektor pangan, sektor lignkungan hidup dan lain-lain.


Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Stunting dan Masalah Gizi Kabupaten Wonogiri, Heru Utomo,S.H.,M.H., selaku pimpinan rombongan menjelaskan maksud dari kunjungan ini adalah dalam rangka pembelajaran terkait pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah gizi dan stunting di Trenggalek. Menurut beliau, Kabupaten Wonogiri yang baru ditahun 2021 ini memulai untuk melaksanakan aksi konvergensi stunting sangat perlu untuk mengetahui pelaksanaan aksi konvergensi yang sudah terlebih dahulu dilaksanakan oleh Kabupaten Trenggalek. Beliau melanjutkan pembelajaran ini difokuskan dalam implementasi Emo-Demo yang dilaksanakan di Kabupaten Trenggalek sebagai inovasi penurunan kasus balita stunting.


Menanggapi pernyataan tersebut, Esti Ayu Nusworini, S.KM, Plt Sekretaris Dinas Kesehatan PPKB Kab Trenggalek pun menjelaskan tentang pelaksanaan inovasi Emo-Demo. Dalam paparannya beliau menjelaskan bahwa Emo-Demo diinisiasi mulai tahun tahun 2018 bekerja sama dengan lembaga nonpemerintah dari Swiss, The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN). Emo demo merupakan kegiatan interaktif dengan meminimalisir pemberian informasi kesehatan dengan metode penyuluhan/pengajaran dan dilakukan dengan menciptakan momen mengejutkan atau re-evaluasi dengan meningkatkan atau menggugah emosi terkait perilaku yang diinginkan. Konsep Emo-Demo itu digunakan sebab selama ini para ibu merasa jenuh terhadap pesan-pesan kesehatan yang diberikan, sedangkan stunting masih tetap menjadi masalah gizi utama, sehingga diperlukan untuk melakukan ha yang berbeda.

Secara teknis beliau menerangkan bahwa praktik Emo-Demo ini menggunakan beberapa modul dengan 4 tema utama yaitu Tema I Asi Eksklusif, Tema II Makanan Pendamping ASI dan Cemilan, Tema III Makanan Sumber Zat Besi dan Tema IV Lain-lain. Emo-Demo ini dinilai sangat membantu perubahan perilaku masyarakat Trenggalek terutama ibu bayi dan pengasuh bayi sehingga mampu untuk menurunkan angka balita stunting. Selain teori tentang Emo-Demo, TP3S Kabupaten Trenggalek mengahadirkan Kader untuk melakukan praktek secara langsung kepada Tim Kabupaten Trenggalek.


Kasubid Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Bappedalitbang Kabupaten Trenggalek, Supriyanto, S.E pun kembali mengingatkan bahwa koordinasi antar stakeholder adalah hal yang sangat penting karena stunting ini bukan hanya permasalahan sektor kesehatan saja namun 30% merupakan kontribusi luar sektor Kesehatan. Beliau juga menjelaskan beberapa langkah inovasi dari Kabupaten Trenggalek yang mendukung aksi pencegahan dan penanganan stunting seperti Sehat Dibayar, Adipura Desa, serta BKK Desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *