Bappedalitbang Terima Kunjungan Studi Tiru Aksi Konvergensi Stunting dari Kabupaten Ponorogo

Kamis, (4/11/2021), Bappedalitbang menerima kunjungan studi tiru pelaksanaan aksi konvergensi penanganan stunting dari Pemkab Ponorogo. Rombongan disambut oleh Sekretaris Bappedalitbang Sudarsono, S.E., M.Si di Ruang Rapat Nakula-Sadewa. Kabid Sosial Budaya Bappeda Litbang Kab. Ponorogo, Indah Junia Evisusanti,S.Pi selaku pimpinan rombongan Pemkab Ponorogo menjelaskan bahwa tujuan dari kunjungan adalah untuk berbagi informasi terkait pelaksanaan aksi konvergensi penanganan stunting di Kabupaten Trenggalek selama ini.

Pada tahun 2021 Pemkab Ponorogo menetapkan 10 desa menjadi lokus stunting dan pada tahun 2022 terdapat 15 desa. Ponorogo lanjut beliau telah melaksanakan 4 dari 8 langkah aksi konvergensi. Beliau juga pemilihan Kabupaten Trenggalek sebagai tujuan studi tiru tidak terlepas dari didaulatnya Kabupaten Trenggalek menjadi Kabupaten Terbaik 1 Dalam Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Penurunan Stunting Terintegrasi Tahun 2020 dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun lalu.

Menanggapi pernyataan tersebut, Plt Kabid. Perencanaan Sosial, Budaya dan Pemerintahan, Teguh Purianto, S. Si, berharap pertemuan ini menjadi ajang saling bertukar pikiran. Beliau pun ingin mengetahui praktek yang sudah dilaksanakan Pemkab Ponorogo sebagai bahan perbaikan Pemkab Trenggalek. Secara umum beliau menyampaikan bahwa kunci penanganan stunting di Kab. Trenggalek adalah dengan memasukkan isu stunting ke dalam dokumen perencanaan sebagai indikator sasaran RPJMD.

Kasubid Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Bappedalitbang Kabupaten Trenggalek, Supriyanto, S.E menambahkan bahwa komitmen pimpinanan daerah merupakan hal yang paling dasar dari penanganan stunting ini. Selain itu beliau juga mengingatkan perlunya koordinasi antar stakeholder karena stunting ini bukan hanya permasalahan sektor kesehatan saja namun 70% merupakan kontribusi luar sektor Kesehatan. Untuk itu sangat penting untuk memperkuat koordinasi antar Stakeholder ABCGM (Akademisi, Business, Community, Government, dan Media) melalui pembahasan strategi program secara bersama sejak dini dan penyusunan program antar instansi/pelaku secara terpadu dan tepat sasaran. Beliau menambahkan bahwa Pemkab Trenggalek juga giat untuk menciptakan beragam inovasi, salah satunya adalah Sehat Dibayar

Berbicara tentang Sehat Dibayar, Esti Ayu Nusworini, S.KM, Plt Sekretaris Dinkes Kab Trenggalek mengungkapkan bahwa inovasi ini diinisiasi oleh Bupati Trenggalek. Inovasi ingin membalikkan pola pikir dimana sebelumnya orang sakit akan dibiayai menjadi orang yang bisa menjaga kesehatan akan diberi insentif. Penilaian akan menggunakan 12 indikator PIS-PK untuk menilai keluarga tersebut sehat atau tidak. Selain itu uang reward, Bupati Trenggalek menginstruksikan untuk dikirim ke rekening yang dipegang istri/ibu dengan harapan dapat dibelanjakan untuk kebutuhan kesehatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *